Kamu Orang Mana, Kamu Orang Apa? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 11 Maret 2014

Kamu Orang Mana, Kamu Orang Apa?

Kamu orang mana ? Atau; Kamu orang apa ?

Pertanyaan seperti ini sering kali kudengar, dan aku pun sering pula mendapat pertanyaan dari orang yang baru kukenal.
Mengherankan, sudah tahu sesama orang Indonesia kok masih bertanya.
Jawabannya nanti adalah; orang Jawa, orang Sunda, orang Batak, orang Manado, dan lainnya.

Jika sudah jawabannya begitu, pernyataan sebagai orang Indonesia hanyalah pada ucapan saja. Dan rasa kebanggaan atas kesukuan atau etnis, setuju atau tidak, sadar atau pura-pura tidak sadar, masih mendarah daging pada diri “orang Indonesia”. Pengakuan sebagai orang Indonesia masih diembel-embeli suku bangsa; Indonesia/Jawa, Indonesia/Sunda, Indonesia/Papua, dan lain sebagainya.

Masalah perasaan atau sentimen kesukuan ini jangan dianggap remeh di negeri ini. Betapapun dengan semboyan bhineka tunggal ika ingin menenggelamkan sentimen kesukuan, belum cukup berhasil.
Di era Orde Baru, seluruh daerah di Indonesia sempat “terpaksa” menerima kepala daerah yang ditunjuk langsung oleh pemerintah pusat, berasal dari suku-suku tertentu. Di era reformasi ini semuanya berubah, sentimen kesukuan di berbagai daerah kembali mencuat, apalagi menyangkut pemilihan kepala daerah.
Di daerah kami sudah membuktikan sentimen kesukuan kembali mencuat ketika terjadi pemilihan gubernur Kalimantan Selatan beberapa tahun lalu. Calon Gubernur incumbent yang putra daerah (Banjar) mengusung semboyan “asli urang banua”, ternyata efektif menjegal calon yang bukan berasal dari suku setempat, suku Banjar.

Pengalamanku sempat bekerja di sebuah perusahaan pertambangan batubara terbesar di wilayah Kalimantan Selatan di era 1990-an, dalam rekrutmen karyawannya cenderung bernuansa kesukuan. Karena yang menjabat kepala personalia berasal dari suku Jawa, maka yang diterima kebanyakan mereka yang berasal dari suku tersebut; Indonesia/Jawa. Padahal kebanyakan karyawan yang diterima itu merupakan tenaga kerja non skill alias buruh kasar.
Sementara itu terdapat pula rekomendasi yang diberikan oleh para Superintendent, Supervisor hingga Foreman ke Bagian Personalia agar menerima suku-suku tertentu yang sama dengan para Superintendent, Supervisor dan Foreman itu.

Setuju atau tidak setuju, masalah kesukuan di republik ini masih sangat kental. Mereka yang tinggal diluar kampung halamannya saja masih mengingat akan kesukuannya. Contoh yang masih hangat adalah permasalahan klaim atas kebudayaan suku Mandailing yang terdapat di Malaysia.
Silakan para ahli berdebat kusir, berdebat sais, atau apalah namanya terkait semboyan bhineka tunggal ika yang pengertiannya mesti diterjemahkan dulu supaya dimengerti itu, karena dalam bahasa sanskerta yang kebanyakan tak dimengerti oleh orang Indonesia, dan ini sangat beda dengan semboyan negara tetangga; bersatu tambah mutu.

Tulisan ini mengandung SARA ? Silakan mau beranggapan demikian. Atau tulisan ini dianggap mencuatkan sentimen kesukuan ? Kenyataannya yang terjadi memang demikian di negeri ini. Para Nasionalis bilang Indonesia itu bukan hanya Jawa, juga daerah dan suku lain tentunya. Buktikan, silakan suku lain coba-coba mencalonkan diri sebagai gubernur di Papua, orang dari suku Jawa mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, orang dari suku Bugis mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalimantan Selatan, saya berani pastikan tak bakal terpilih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.