Kaya Hasil Tambang, Warga Tak Menikmati - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 29 Maret 2014

Kaya Hasil Tambang, Warga Tak Menikmati


Memasuki pintu gerbang wilayah Kabupaten Tanah Bumbu dari arah Banjarmasin, tepatnya wilayah Kecamatan Satui, mulai terasa suasana daerah pertambangan.

Di kiri jalan umum di daerah tempat KH. Idham Chalid berasal ini, tampak lahan-lahan dengan sedikit pohon yang terkoyak dimana-mana, berlobang besar dan dalam, bekas galian tambang batubara yang ditinggalkan begitu saja tanpa direklamasi.

Di daerah inilah, di sebuah kampung bernama Satui yang dipakai menjadi nama sebuah kecamatan yang kini masuk Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, KH. Idham Chalid, salah seorang tokoh di republik ini dilahirkan.

Idham Chalid, beliau merupakan ulama, salah seorang tokoh di Ormas Nahdlatul Ulama (NU). Beliau juga sempat menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Daerah laksana di film cowboy.

Suasana daerah pertambangan semakin tampak tercium aromanya dengan adanya truk-truk besar pengangkut batubara yang melintasi dan menggunakan jalan umum. Truk-truk tersebut berbaur dengan kendaraan umum seolah berebut mendapat tempat di jalanan umum. Meski sudah ada Peraturan Daerah (Perda) yang melarang penggunaan jalan umum untuk angkutan tambang dan perkebunan, namun truk-truk itu melenggang enteng tanpa takut diamankan oleh pihak yang berwenang. Truk-truk yang bermuatan melebihi kapasitas angkut (overload) itu pun tak ada yang berbelok dan mampir di jembatan timbang yang dibangun belasan tahun lalu.

Memasuki ibukota kecamatan, aroma daerah pertambangan tetap terasa; dalam kota yang berdebu di waktu musim panas, dan jalan umum berlapis lumpur tipis di kala musim penghujan.
Pemandangan para pekerja yang menggunakan seragam, bersepatu safety dari bahan kulit berlapis besi pengaman di bagian ujung kaki, dilengkapi dengan helm berwarna kuning, biru dan putih; tampak pagi dan petang sedang menunggu kendaraan jemputan untuk pergi berkerja, bergantian dengan mereka yang turun usai bertugas.


Tak seberapa jauh dari pusat kota kecamatan, diantara pemukiman warga; guruh dan deru peralatan berat terdengar garang mengeruk tanah mencari benda padat berwarna hitam; emas hitam begitu sering orang menyebut.

Kuping, hidung dan mata warga yang bermukim diantara deru debu kegiatan pertambangan itu tampaknya sudah sangat kebal, sehingga bunyi raungan peralatan berat terdengar bak nyanyian merdu, bau bahan bakar dan batubara seolah farfum mahal, dan debu yang berterbangan dianggap seperti angin semilir yang terasa sejuk di hidung.

Mungkin saja para warga sudah terlalu jenuh dan bosan mengeluh karena keluhan yang seperti membentur tembok yang teramat kuat dan kokoh. Karena bukan hal yang rahasia jika diantara kegiatan pertambangan yang bergelimang rupiah, pengusahanya bisa berbuat apa saja dengan cara-cara premanisme untuk memuluskan usaha mereka. Mengintimidasi dan mengancam siapa saja yang dianggap menghalangi usaha pertambangan; bukan hal yang aneh dan mengejutkan lagi, sudah teramat biasa.

Saya jadi membayangkan keberadaan kegiatan pertambangan batubara ini membandingkannya dengan tayangan di film-film cowboy; di lokasi pertambangan di benua Amerika, dimana para cowboy menunggang kuda dengan pistol di pinggang maupun di tangan. Bedanya kini para cowboy di pertambangan itu tak menunggang kuda, tapi menaiki mobil-mobil double cabin dengan penggerak 4 roda (4 wheel drive) alias dobel gardan.

Keluar dari pusat pemerintahan kecamatan itu, pun aroma pertambangan masih belum hilang. Di kanan kiri jalan tampak peralatan berat yang sedang diparkir maupun yang diperbaiki di workshop-workshop (bengkel).
Kalaulah perjalanan dilakukan dengan menggunakan perahu motor menyusuri sungai Satui yang bermuara ke laut jawa, maka di kanan kiri bantaran sungai yang cukup lebar ini, akan ditemui puluhan pelabuhan khusus (Pelsus) untuk pemuatan batubara. Pemandangan tongkang-tongkang dan kapal tarik (tugboat) yang sedang bersandar muat di pelabuhan, maupun yang sedang keluar sungai bermuatan atau sedang kosong memasuki sungai; merupakan pemandangan sehari-hari.


Keluar dari wilayah Kecamatan Satui ke arah Batulicin, puluhan kilometer di kanan kiri jalan umum akan tampak tanaman kelapa sawit milik beberapa perusahaan. Meski tampak dari luar perkebunan kelapa sawit, namun didalam, diantara batang-batang pohon itu terdapat pula lokasi pertambangan batubara.

Aroma pertambangan sudah hilang manakala memasuki wilayah Kecamatan Sungai Loban dan Kusan Hilir. Di kedua wilayah kecamatan ini aroma berganti dengan perkebunan dan perikanan. Di wilayah Kecamatan Sungai Loban lebih banyak dihuni oleh para transmigran dari pulau jawa, bali, dan nusa tenggara. Mereka dikirim oleh pemerintahan Orde Baru di awal-awal era tahun 1980-an. Para transmigran tersebut sebagian besar menjadi petani, peladang dan pekebun.
Adapun di wilayah Kecamatan Kusan Hilir, yang sebagian wilayahnya berada di pesisir laut jawa, sudah pasti warga yang kebanyakan merupakan keturunan suku Bugis; menjadi nelayan. Aroma ikan kering yang sedang dijemur pun tak ayal akan memasuki rongga hidung jika kaca jendela mobil dibiarkan terbuka.


Meski dihuni oleh sebagian besar etnis keturunan Bugis, ternyata tak semuanya mereka menjadi nelayan. Warga yang bermukim agak jauh dari pesisir pantai banyak pula yang menjadi petani yang bercocok tanam padi.

Perjalanan diteruskan memasuki wilayah Kecamatan Batulicin, dimana menjadi pusat pemerintahan atau ibukota Kabupaten Tanah Bumbu, meski tak terdapat kegiatan pertambangan, namun disinilah terdapat beberapa pelabuhan tempat pemuatan batubara dan bijih besi yang akan dikirim keluar daerah maupun mancanegara.
Kota Batulicin yang barusan memperingati Hari Jadi Kabupaten Tanah Bumbu Ke-10, terletak di pesisir sebuah selat yang memisahkan antara daratan pulau Kalimantan dengan Pulau Laut dimana terletak Kotabaru, ibukota kabupaten tetangga.


Batubara dan bijih besi yang dikapalkan melalui beberapa pelabuhan di Batulicin, berasal dari wilayah kecamatan lain yang masih termasuk Kabupaten Tanah Bumbu; Kecamatan Kusan Hulu dan Mantewe.

Wilayah kaya batubara, warga banyak miskin.

Satui dan Batulicin; Tanah Bumbu, sudah sangat dikenal namanya di kalangan para pebisnis batubara. Selain banyak pengusaha ataupun perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, disini terdapat sebuah perusahaan, pemain besar di bidang dan bisnis pertambangan batubara; PT. Arutmin Indonesia yang sebagian sahamnya konon dimiliki oleh Aburizal Bakrie (ARB) melalui Bumi Resources. Jutaan metrik ton batubara setiap tahunnya dikeruk dari perut bumi Tanah Bumbu, dikirm keluar daerah terutama ke pulau jawa untuk keperluan industri dan pembangkit listrik, sebagian ada pula yang dikirim ke mancanegara. Ini sudah berlangsung lebih dari 2 dekade lalu sejak PT. Arutmin Indonesia memulai eksplotasi, kemudian disusul dan dikuti oleh para pengusaha-pengusaha atau perusahaan lainnya.

Batubara Tanah Bumbu digunakan untuk pembangkit listrik; PLTU, menerangi kota-kota di pulau jawa. Sementara itu di Tanah Bumbu sendiri, pemadaman listrik oleh PLN seperti resep minum obat; pagi, sore, dan malam hari bergiliran padam.

Itu perkara listrik. Ironis bahkan tragis, daerah lumbung batubara yang digunakan untuk kebutuhan PLTU penghasil tenaga listrik, justru listriknya tidak keruan. Entahlah salahnya dimana, dan siapa yang tepat dipersalahkan.

Selain itu, tak sedikit orang luar berpikir dan menyangka warga Tanah Bumbu hidup dalam kemakmuran karena dianugerahi batubara melimpah dan kelimpahan rejeki dari batubara tersebut.
Sama sekali tidak benar. Banyak memang yang sudah menjadi kaya raya dari batubara, tapi mereka yang memang benar-benar terlibat langsung dengan kegiatan penambangan emas hitam itu.


Kalaupun terdapat warga yang menggantungkan kehidupannya dari keberadaan tambang batubara, mereka adalah yang ikut berkerja di perusahaan-perusahaan tambang, itupun kebanyakan dari mereka adalah para pendatang dari luar daerah yang karena domisi dan pekerjaan; mereka menjadi diakui sebagai warga Tanah Bumbu.

Hanya sebagian kecil yang benar-benar warga setempat yang terlibat dan menggantungkan hidupnya pada batubara. Sebagian kecil itu adalah mereka yang memiliki lahan yang menyimpan deposit batubara didalamnya. Lahan mereka itu dibeli oleh perusahaan maupun pengusaha, atau ada pula yang menerima semacam fee dari tiap metrik ton batubara yang dikeruk dan diambil.

Warga setempat yang memiliki pekerjaan sebagai petani, nelayan, pedagang, maupun buruh kasar, tetap pada pekerjaan mereka. Yang menjadi kaya, dan terus bertambah kaya adalah para pemodal yang mampu melakukan kegiatan pertambangan. Karena kegiatan di bidang ini memerlukan modal yang tidak sedikit; dari ratusan juta hingga milyaran rupiah.

Suatu daerah atau wilayah yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang besar, belum tentu warganya menikmati langsung dan berkehidupan makmur serta sejahtera. Tanah Bumbu salah satu contoh nyata, contoh lainnya bisa kita sebut; Papua, dan entah daerah atau wilayah mana lagi di seantero republik ini. Kesalahannya dimana, dan siapa yang tepat dipersalahkan ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.