Kutukar Putriku Untuk Egoku - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 05 Maret 2014

Kutukar Putriku Untuk Egoku

Rasanya Irma ingin berlari, melompat, atau jika mungkin terbang sejauh-jauhnya meniggalkan rumah yang sudah ditempati lebih dari 18 tahun bersama keluarganya.
Ia tak mengira kejadian yang dialami oleh kakaknya, Isna, bakal terjadi juga menimpa dirinya.

Masih segar dalam ingatan Irma lebih dari 2 tahun lalu, Isna yang saat itu baru beberapa bulan tamat dari sekolah Aliyah, harus pasrah menangis dalam dekapan ibunya.
“Sudahlah Is, ini mungkin takdir yang mesti kamu terima dengan ikhlas dan lapang dada. Tak ada orangtua yang mau melihat anaknya menderita. Mungkin inilah cara Tuhan untuk menguji sekaligus menunjukkan jalan buat kamu untuk meraih kebahagiaan dan masa depan,” hibur ibunya, ibu Irma juga.
“Tapi bu, calon suami yang dipilihkan ayah itu sama sekali tak pernah aku kenal sebelumnya. Aku tak menyayanginya, bagaimana mungkin aku bisa mencintainya,” isak Isna dengan suara tertahan.
Sambil membelai rambut anaknya, ibu Isna kembali menghibur putrinya, “ibu tahu. Ibu juga dulu tak bedanya kamu. Tapi waktu lah yang kemudian secara perlahan menjadikan ibu dapat menerima, menyayangi dan kemudian mencintai ayahmu.”

Sedih dan pedih rasanya hati dan perasaan ibu Isna melihat dan membayangkan perasaan anaknya kelak. Tapi ia hanya lah seorang istri, seorang ibu yang harus taat dan berbakti terhadap suami, meski hatinya sebanarnya berontak untuk membela anak-anaknya.
“Aku sudah menerima lamaran dan pinangan H. Rahman. Dia itu keluarga kaya di kota ini, anaknya selain menjabat Kepala Desa, juga pengusaha di berbagai bidang,” kata Burhan, ayah Isna di depan istri dan Isna, anaknya.
“Tapi pak, H. Rahman itu kan sudah punya istri 2 orang. Maksud bapa anak kita Isna akan dijadikan istri ketiga, dimadu ?” Sahut istrinya.
“Iya, tepat. Tak masalah jadi istri ketiga atau dimadu. Daripada kawin sama perjaka pengangguran, jauh lebih baik kawin dengan orang kaya meski tua, masa depan sudah di depan mata,” dalih Burhan dengan suara sangat berwibawa.
“Harta saja tak cukup bisa membahagiakan bila tak saling mencintai, apalagi harus berbagi kasih sayang dengan istri madu lainnya,” ucap istrinya berhati-hati dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Cinta ? Makanan macam apa itu ? Makan tuh cinta sampai bongkok ! Kita saja dulu nikah karena dijodohkan orangtua, tak saling kenal, tak saling cinta, nyatanya kita bisa bahagia hingga sekarang,” dalih Burhan lagi dengan suara agak emosi.
“Itu kan kita dulu, pa. Sudah bukan jamannya lagi. Cukup lah kita saja yang mengalami masa-masa itu,” kata istrinya lagi.
“Sudahlah, cukup segala pembelaanmu terhadap keputusanku. Tekadku sudah bulat. Apalgi H. Rahman janji bila sudah menikahi Isna, akan membangunkan toko untuk Isna jualan emas,” pungkas Burhan.
Istrinya pun akhirnya hanya bisa menunduk dan bungkam. Sedangkan Isna sudah sejak dari tadi tak bisa berbuat apapun. Berkata-kata pun Isna tak mampu selain perasaannya yang berkecamuk tak keruan, dan pandangan kosong dengan air mata yang tak terasa menetes.

Itulah yang sudah menimpa Isna. Tak berapa lama lagi akan menimpa Irma juga. Sama seperti Isna, nasib Irma pun harus nikah dengan seseorang yang selama ini belum ia kenal, seumur ayahnya mungkin juga lebih tua, dan menjadi istri kesekian pula.
“Istri pak Sukri yang tua kan meninggal beberapa bulan lalu. Ia bermaksud kawin lagi, dan ia meminang Irma anak kita untuk dijadikan istri kedua. Pak Sukri yang usaha pertambangannya lagi naik daun itu, janji ke aku akan membelikan sebuah mobil Toyota Rush bila dapat menikahi Irma,” ungkap Burhan kepada istrinya saat mereka berdua di peraduan menjelang tidur malam tadi.
“Bapa ini sangat egois. Isna dulu tak bapa beri pilihan, sekarang Irma juga begitu, apa bapa tak kasian dengan anak kita ?” Sahut istrinya.
“Justru itu bu, aku kasian sama anak kita bila kawin dengan orang yang tak jelas masa depannya. Lagian dengan cara begini, keadaan ekonomi kita juta jadi terbantu dan ada yang membantu. Buktinya anak kita si Mahmud juga diberikan pekerjaan oleh suami Isna tanpa kita susah-susah mencarikannya pekerjaan,” kata Burhan dengan nada yang sama sekali tanpa perasaan.
“Yah…..aku terserah apa maunya bapa saja. Apapun ucapanku pasti tak akan dianggap oleh bapa,” ucap istrinya sambil menghela nafas panjang.

Perasaan Burhan sangat senang membayangkan akan mendapatkan mobil baru dari calon menantunya itu, calon suami Irma. Ia membayangkan nantinya semua teman-temannya akan tercengang dan terheran-heran melihat ia mengendarai mobil baru. Burhan tak lama lagi akan mengganti sepeda motornya yang butut dengan mobil yang masih gres. Ia tak akan peduli dengan berbagai anggapan teman-temannya nanti, heran terhadapnya yang cuma seorang PNS dengan pangkat golongan II-B.

Akhirnya Irma hanya juga bisa pasrah atas keputusan egois ayahnya. Meski hati dan perasaannya hancur lebur berkeping-keping, Irma harus duduk bersanding dengan pria yang jadi pilihan ayahnya. Padahal di hatinya mulai tumbuh benih-benih cinta terhadap lawan jenis, pria yang ia kenal sejak masih bersekolah di SMK. Benih cinta yang mulai bersemi itu terpaksa harus ia kubur dalam-dalam di dasar jurang hatinya.

“Maafkan aku sayang, aku tak berdaya menentang semua kehendak ayahku, semoga kau kelak mendapatkan yang lebih baik,” bisik hati Irma untuk pria yang sempat mengisi relung hatinya.
“Wah, mobil baru nih bos kita,” sapa Syahril, teman Burhan ketika mereka bertemu saat sarapan di kantin Pemkab pagi tadi.
Burhan pun berbunga hatinya mendengar sapaan temannya itu.
“Kebetulan tanahku di kampung ada beli. Daripada uangnya terpakai nggak keruan, aku belikan mobil aja,” alasan Burhan. Padahal selama puluhan tahun bekerja sebagai PNS, rumah yang ditempatinya sekarang saja ia beli dari beberapa kali pinjaman di Bank BPD dengan jaminan gajinya yang dipotong tiap bulan. Apalagi bisa membeli mobil, salah-salah tak ada lagi gaji yang diterima Burhan tiap bulan. Untunglah selama ini ada menantu yang membantu ekonomi keluarganya.
“Berarti sarapan kali ini kita dibayari dong,” ujar Syahril sembari senyum-senyum.
“Jangan kuatir, pasti aku bayari, kalau buat yang lain belum bisa,” sahut Burhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.