Modus Penipuan atau Trik Pemasaran? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 10 Maret 2014

Modus Penipuan atau Trik Pemasaran?

Aku tak tahu pasti apakah ini modus baru penipuan, atau trik baru memasarkan produk. Yang jelas aku sudah tertipu yang menguras seluruh duit yang ada di dompetku.

Saat itu aku sedang akan memasuki sebuah mall di Kota Banjarmasin. Aku bermaksud akan membeli ponsel terbaru. Namun langkahku tertahan sebelum pintu masuk, dua orang menahan langkahku. Seorang wanita dan seorang pria menawariku semacam undian berhadiah. Mulanya aku enggan atas tawaran mereka, tapi karena cara menawari yang ngotot, aku pikir tak ada salahnya mencoba.

Oleh keduanya aku dinyatakan memenangkan undian, aku disuruh memilih salah satu dari banyak hadiah yang ditawarkan, berupa barang elektronik.
Aku tertarik dengan peralatan audio, karena kupikir barang eletronik lainnya aku sudah punya.
Dan mulanya kupikir pula ini hadiah gratisan alias tak dipungut biaya, ternyata tidak.



Dengan gaya bicaranya yang bagus dan meyakinkan, si wanita mengungkapkan bahwa hadiah yang dimaksud adalah berupa diskon atau potongan harga sampai lebih 60 persen.
Aku melihat harga perangkat elektronik yang kuinginkan itu sebesar Rp 15 juta, maka aku pikir mesti merogoh kocek Rp 6 juta untuk mendapatkannya jika diskon 40 persen.
Aku pun mulai ragu mengingat uang bawaanku di dompet cuma ada sekitar Rp 4 juta.
“Ga jadi aja deh, mbak,” cetusku.
“Jangan mas, sayang lho ini harganya jadi sangat murah bila dibandingkan beli di toko nantinya,” sanggah wanita itu.
“Uangku ga cukup segitu,” ungkapku terus terang.
“Saya kurang yakin bila mas ini cuma punya uang segitu. Saya pastikan mas punya uang dalam bentuk lain, di ATM tentunya,” sanggah wanita itu sepertinya tahu bila saya pegang ATM.
“Pertimbangkan untuk segera mengambil tambahannya dari ATM terdekat, kami tunggu disini, tak kemana-mana,” lanjut wanita itu meyakinkanku.


Akhirnya pertahananku luluh juga untuk tetap membawa pulang perangkat elektronik tersebut. Aku pun mengambil uang melalui ATM, dan transaksi hasil undian instant berhadiah pun terjadi. Langkahku untuk masuk mall tertahan diluar, dan niat mau beli ponsel baru pun kubatalkan.
Aku mendapatkan tanda terima transaksi, dibayar lunas di tempat. Mereka menanyakan alamatku di Banjarmasin, karena barang akan mereka antar ke alamat. Kuberikan alamat sebuah hotel dimana aku sedang menginap bersama temanku, berikut nomor ponselku.


Baguslah kupikir daripada aku susah-susah bawa kardus yang lumayan besar, ada yang antar barangnya ke alamat.
Didalam taksi yang kutumpangi menuju hotel, kutersadar. “Ah gobloknya aku, bagaimana kalau barang itu tak mereka antar ke alamatku ?” Pikirku.
Aku buru-buru merogoh dan memeriksa tanda terima transaksi barang. Disitu terdapat nomor ponsel dan telpon kantor. Aku hubungi yang nomor ponsel saja. Suara seorang pria menyahut telponku. Kukatakan maksudku menelponnya, dan ia bilang barang sudah akan diantar.


Benar, beberapa menit setelah aku tiba di hotel, barang itupun menyusul.
Teman sekamarku yang barusan pulang dari menengok kerabatnya, heran ketika melihat kotak kardus cukup besar.
Setelah kubuka dan temanku lihat isinya, ia tambah kaget. Menurut temanku seperangkat alat audio dengan merk tak terkenal seperti yang kudapatkan itu, terlalu mahal harganya. “Kamu itu sudah setengah ditipu oleh para sales itu,” kata temanku.

Aku cuma bisa diam tanpa komentar atas penjelasan temanku. Hanya dalam hati kupikir lain kali mesti berhati-hati jika menemukan hal sejenis di mall atau di tempat lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.