Para Wartawan Terima Insentif Bulanan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 04 Maret 2014

Para Wartawan Terima Insentif Bulanan


Soal perhatian dan menjaga keakraban dengan para wartawan atau jurnalis, Bupati Tanah Bumbu Kalsel, Mardani H Maming patut mendapat acungan jempol.

Bupati termuda se Indonesia itu tak segan-segan merogoh kocek pribadinya membantu wartawan yang sedang membutuhkannya. Setiap bulan, Bupati yang berlatar belakang pengusaha ini, mengeluarkan Rp 1 juta untuk sebanyak 30 wartawan sebagai yang ia istilahkan uang silaturahmi. Maka tiap bulan sudah dipastikan Bupati merogoh kocek pribadinya secara rutin Rp 30 juta.

Hal yang dilakukan oleh Bupati Tanah Bumbu secara pribadi itu, saya katakan kemungkinan tak dilakukan oleh para Bupati/Walikota lainnya di Kalsel.
Dalam hal jumlah wartawan atau jurnalis yang bertugas di Tanah Bumbu, jika didata secara benar jumlahnya tak kurang dari 50 orang. Jumlah tersebut berada dibawah Banjarmasin sebagai ibukota Propinsi Kalsel. Di daerah Kabupaten/Kota lainnya di Kalsel, jumlah wartawan yang bertugas paling-paling berkisar antara 5 hingga 10 orang.

Banyaknya wartawan yang bertugas di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, dalam pengamatan saya lebih kepada sikap dan perhatian para pejabatnya. Apalagi kalau bukan disebabkan mudah dan murah hatinya mereka mau berbagi rejeki kepada para wartawan. Disamping itu banyaknya pengusaha, terutama yang bergerak di bidang pertambangan batubara dan bijih besi. Dan diantara sekian banyak pengusaha di bidang pertambangan itu, mereka beroperasi secara “sepanyol”, separo nyolong, bahkan bila menurut istilah Zulkifli Hasan, Menhut RI, mereka itu adalah para “Taliban”, Tambang Liar Ala Banjar (nama etnis mayoritas di Kalsel).

Para penambang Sepanyol dan Taliban tersebut kebanyakan tak pelit berbagi rejeki kepada para wartawan. Hal itu tentu saja terkait usaha atau aktivitas ilegal mereka yang tak ingin diusik oleh para wartawan. “Tak seberapa jumlahnya dari hasil usaha mereka bila cuma ngasih wartawan ratusan ribu rupiah tiap ketemu atau tiap bulan, masih sangat banyak untungnya,” ungkap beberapa wartawan yang bertugas disana.

Kemudahan mencari rupiah di wilayah Tanah Bumbu ini sudah diketahui luas oleh para wartawan di Kalsel. Sehingga tak jarang mereka yang sebenarnya bertugas diluar daerah Tanah Bumbu, ngelencer atau istilahnya “nggerandong” ke Tanah Bumbu.

Adapun media massa (kebanyakan koran mingguan) yang beredar dan dipegang oleh para wartawan di Tanah Bumbu, sebagian besar berhome base di Pulau Jawa. Mereka ini sangat bangga mengatakan kalau media dari Pulau Jawa itu adalah media nasional. Padahal banyak diantara media itu yang mengalami kesulitan terbit secara berkala, atau yang oplahnya setiap minggu cuma 1.000 hingga 2.000 eksemplar.
Jadi saya pikir mereka ini terlalu berlebihan. Koran beroplah kecil, diedarkan di beberapa wilayah propinsi atau kabupaten tapi ngakunya bersakala nasional. Yang mungkin agak aneh adalah, koran yang isi beritanya kebanyakan tak aktual lagi alias sudah ketinggalan, 12 halaman, malah harganya dijual 2 sampai 3 kali lipat dari koran harian yang memiliki puluhan halaman.

Itulah kondisi di daerah saya yang terkait dengan keberadaan wartawan dan medianya masing-masing. Kondisi seperti ini meski bersifat lokal, namun tak menutup kemungkinan merupakan gambaran sebenarnya dari kondisi secara nasional. Maka untuk membenahi ini semua merupakan tugas dan pekerjaan yang pasti sulit dan memerlukan waktu panjang oleh para praktisi dan pemerhati pers terutama Dewan Pers dan para organisasi profesi yang jumlahnya juga sangat banyak di negeri ini.
Selamat Hari Pers Nasional !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.