Surau Itu, Amanah Itu - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 24 Maret 2014

Surau Itu, Amanah Itu

“Panitia perbaikan surau sudah dibubarkan tadi pagi,” ungkap H. Syahran saat aku membeli sebungkus rokok di kiosnya siang itu.
“Siapa yang membubarkan, kenapa ?” tanyaku heran.
“Siapa lagi kalau bukan Ketua RT. Alasannya selama ini Panitia tak mau patuh pada keinginannya,” jawab H. Syahran yang selama hampir 7 bulan menjadi Bendahara Panitia.
Mendengar penuturan H. Syahran aku cuma bisa manggut-manggut sembari menarik nafas dalam-dalam.


Meski aku bukan warga yang bertempat tinggal di lingkungan sekitar Surau itu, dalam beberapa bulan terkahir aku sering membantu untuk perbaikan surau yang diberi nama Amanah itu.
H. Syahran dan Modin di surau tersebut, pak Maun, sering bertukar pendapat denganku, itu karena aku sering mengunjungi surau.
Bukan tak ada surau di lingkungan tempatku tinggal, tapi aku merasa cocok shalat di surau itu.

Dengan dibubarkannya Panitia Perbaikan Surau, aku pun menjadi kehilangan semangat untuk membantu perbaikan tempat ibadah itu.
“Pak Ketua RT itu curang, korup, suka menilep uang sumbangan wakaf untuk surau kita,” cetus Abduh, yang sehari-harinya sebagai tukang bangunan, selama ini sering diminta bantuannya untuk memperbaiki bangunan surau yang sudah tampak lapuk.
“Hus, jangan berprasangka jelek begitu bila tak ada bukti,” tegur Salim, yang membuka usaha warung makan di dekat surau.

Kabar dan pembicaraan mengenai ketidak jujuran Ketua RT terkait penggunaan sumbangan maupun wakaf warga untuk perbaikan surau, sudah sejak lama kudengar dari banyak warga. Bila membicarakan masalah kondisi surau, mereka berbisik-bisik mengenai ketidak jujuran Ketua RT yang sekaligus sebagai Ketua Pengelola Surau.
“Sudah tak terhitung sumbangan dan wakaf dari warga maupun dari pihak lain, namun kondisi surau tetap saja seperti itu, lapuk dan kusam,” beber pak Maun, yang sudah bertahun-tahun menjadi Modin, memelihara surau.
“Bulan lalu seorang pengusaha batubara memberikan bantuan sebesar Rp 25 juta, langsung diserahkan ke Ketua RT. Namun yang sampai ke Bendahara cuma Rp 20 juta, alasannya dipotong sebagai fee,” Firman, yang membuka usaha perbaikan elektronik ikut menambahkan.
“Bantuan dari Pemkab sebesar Rp 60 juta, juga diterima langsung oleh Ketua RT, belum ada laporannya ke warga,” ungkap Mahdi yang PNS di kantor Pemkab.

Tak cuma aku yang menyayangkan pembubaran Panitia Perbaikan surau itu, kebanyakan warga juga begitu.
“Padahal panitia itu sudah bagus, menunjukkan hasil kerjanya, buktinya kini surau sudah lebih bagus dalam beberapa bulan ini,” seorang warga lainnya angkat bicara.
“Ketua RT tidak mau jika keuangan dipegang oleh orang lain, ia ingin sebagai Ketua Pengelola sekaligus Bendahara pemagang kas keuangan,” ungkap H. Syahran.

Dari H. Syahran kuketahui mengenai keberadaan surau tersebut. Menurutnya, surau itu dulunya dibangun oleh seorang dermawan yang bertempat tinggal di desa tetangga. Surau itu sudah berusia hampir 15 tahun. Si dermawan pembangun surau itu pun telah meninggal dunia sekitar 4 tahun lalu.
Bangunan surau itu baru beberapa bulan lalu mengalami perbaikan yang benar-benar mengubah penampilannya.

“Surau ini diamanahkan kepada saya untuk mengelolanya. Ini amanah yang diberikan oleh pak Muhtari, pembagun surau ini sebelum beliau meninggal dunia. Jadi terserah mau saya apakan. Biar saya yang mengurusnya sendiri tanpa bantuan siapapun,” itu yang diceritakan H. Syahran tentang ucapan Ketua RT saat pembubaran Panitia Perbaikan Surau.
“Kita lihat saja bagaimana kondisi surau ini nanti. Semoga Ketua RT bertindak memakmurkan surau, bukan mencari kemakmuran di surau ini,” ujarku ke H. Syahran yang mengangguk tanda sependapat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.