Tak Perlu Berbahasa Inggris Kalau Masih Makan Nasi - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Maret 2014

Tak Perlu Berbahasa Inggris Kalau Masih Makan Nasi

Indonesia yang konon menurut sejarah, dijajah Belanda selama kurang lebih 3,5 abad, tapi hanya secuil yang dapat mengerti bahasa si Penjajah itu.

Di era kemerdekaan, dan modern ini, bahasa Inggris menjadi sebagai salah satu bahasa yang mesti dikuasai oleh mereka yang ingin masuk kedalam pergaulan dunia, tak terkecuali oleh orang Indonesia yang menginginkan kemajuan dalam berbagai bidang, karena tak dapat dipungkiri berbagai hal yang terkait dengan kemajuan, sudah identik dengan bahasa Inggris sebagai pengantar pergaulan antar bangsa di dunia, serta pengantar ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu kendala bagi kebanyakan orang Indonesia untuk menguasai bahasa Inggris adalah dikarenakan faktor lingkungan, terutama lingkungan tempat tinggal, apalagi tinggal di daerah.
Telinga orang-orang di daerah pasti menjadi terangkat jika mendengar ada yang berbicara dalam bahasa selain bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Tak sedikit dari mereka yang mencibir dengan tudingan; sok pintar, biar dikatakan berpendidikan tinggi, sok ke-Barat-an, biar dianggap lebih modern daripada sekedar orang kampung.
Makanya bahasa Inggris lambat berkembang dan dikuasai oleh kebanyakan orang Indonesia, meski diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bahasa asing wajib. Kendalanya yaitu tadi, setelah dipelajari di sekolah, tapi tak dipraktekkan diluar sekolah karena terbentur faktor lingkungan tempat tinggal yang tak memungkinkan harus berbahasa Inggris dengan orang-orang di luaran terkecuali di lingkungan sekolah dan lingkungan akademik.


Yang lebih tak mengenakkan adalah komentar seperti ini, “ah lagak lu pake bahasa Inggris, makanan lu aja masih nasi campur jagung sama tempe.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.