Takut Miskinkah Dirimu Bila Memberi? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 04 Maret 2014

Takut Miskinkah Dirimu Bila Memberi?

foto : eocommunity.com
Aku memberi uang kepada pengemis cilik itu bukan karena aku sok banyak duit, sok empati, sok dermawan, ataupun seabrek sok lainnya. Tapi lebih kepada aku merasa pengemis cilik itu merupakan bagian dari anak bangsa ini yang terpinggirkan karena tak beruntung, dan tak sempat terperhatikan oleh negara.

Selembar uang sepuluh ribu rupiah aku berikan kepada pengemis cilik perempuan yang kutaksir sebaya dengan anakku yang masih duduk di kursi kelas 2 SD.

Saat itu aku sedang menunggu nasi pecel pesananku di sebuah warung tenda yang cukup ramai pengunjung. Malam itu aku diajak seorang teman makan diluar.
Temanku pergi menghampiri pemilik warung meminta dan sambil menunggu pesanan. Sedangkan aku duduk mengambil tempat duduk di sudut warung.

Duduk di depanku seorang pria yang bertampang dan berpostur layaknya “bos” kebanyakan di daerahku. Apalagi sambil menunggu pesanan nasi, pria itu asyik dengan gadget terbaru yang setahuku harganya lumayan mahal. Duduk tak jauh dari aku, sepasang suami istri separo baya, si suami berkopiah haji, sedangkan sang istri berkerudung meski belum bisa disebut jilbab.

Tiba-tiba entah dari mana, datang seorang pengemis cilik perempuan mendekat ke para pengunjung. “Pak, bu, saya lapar, saya belum makan, minta duitnya, pak, bu,” melas pengemis yang berpakaian lusuh dengan muka kuyu.

Si “bos” yang mungkin merasa terganggu atas kehadiran pengemis itu hanya sebentar mengangkat mukanya menatap ke arah pengemis, kemudian kembali asyik dengan gadget canggihnya. Sedangkan sepasang suami istri, pak haji dan bu hajjah, tampak pura-pura tak mendengar suara si pengemis, juga asyik bercakap satu sama lain. Begitupun sekian banyak pengunjung lainnya tampak tak peduli, mereka ada yang sedang asyik menikmati santapannya, ada juga yang memang betul-betul tak peduli.

Si pengemis cilik perempuan itu pun mendekati aku yang memang sejak tadi terus memperhatikannya. Sebelum ia memintanya aku pun merogoh kocek, mengambil uang dan menyerahkan ke pengemis itu yang kemudian berlalu begitu saja tanpa ucapan apapun yang keluar dari mulut mungilnya.

Sepeninggal pengemis itu aku jadi teringat seorang anakku yang kini duduk di kelas 6 SD. Beberapa jam yang lalu ia minta uang untuk membayar iuran bulanan belajar mengaji. Saat itu aku belum memberinya uang. Justru uang itu telah aku berikan kepada pengemis cilik tadi itu.

Pikirku biarlah urusan bayar iuran mengaji anakku ditunda dulu. Anakku masih lebih beruntung daripada pengemis yang mungkin saja tak bersekolah, dan makan pun kemungkinan juga mengalami kesulitan jika tak ada orang yang menaruh belas kasihan.

Aku pun jadi teringat syair dari sebuah lagu Rhoma Irama,…..itu hartanya yang miliki……tidak akan kau bawa mati……..mengapa begitu kikir hatimu memberi pada orang…….takut miskin kah dirimu bila memberi pada orang……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.