Tanah Bumbu Teratas Jumlah Pengidap HIV/AIDS di Kalimantan? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Tanah Bumbu Teratas Jumlah Pengidap HIV/AIDS di Kalimantan?


Beberapa hari lalu saya sempat terkejut usai berbincang dengan seorang bidan di sebuah warung makan. Bidan Desa yang juga buka praktik di kediamannya ini bercerita tentang para pengidap HIV/AIDS di daerah kami. Menurutnya Kabupaten Tanah Bumbu, daerah dimana kami tinggal, kini menduduki peringkat teratas jumlah pengidap HIV/AIDS di Kalimantan Selatan.

Saya sempat pula menyangkal penuturan Bidan tersebut, tapi dikatakannya kalau ia mengetahui tatkala mengikuti seminar tentang HIV/AIDS di Banjarmasin beberapa waktu lalu.
Miris dan was-was mendengar penuturan Bidan tersebut mengingat bahaya yang mengancam tanpa diketahui pasti siapa-siapa saja yang menjadi pengidap HIV/AIDS tersebut. “Baru-baru tadi ada salah seorang pengidap HIV yang meninggal,” ungkap Bidan tersebut tanpa mau bercerita secara detil.


Sebelumnya saya sudah pernah menulis masalah ini pada tahun 2012, dimana jumlah pengidap HIV/AIDS di Tanah Bumbu sebanyak 141, positif 7 yang mengidap AIDS. Data terkini diketahui hingga Juni 2013 terdapat 707 yang terindikasi mengidap HIV/AIDS di Kalimantan Selatan, dan Kabupaten Tanah Bumbu menduduki peringkat pertama, disusul Kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Data tersebut berdasarkan rilis dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kalimantan Selatan tanpa merinci secara detil jumlah di masing-masing kabupaten/kota.

Kini belum diketahui berapa jumlah pasti pengidap HIV/AIDS di seluruh Kabupaten Tanah Bumbu. Sementara itu seiring makin bertambahnya jumlah pengidap HIV/AIDS di Tanah Bumbu, bertambah pula jumlah para Pekerja Seks Komersial (PSK). Di Tanah Bumbu terdapat lokasi (bukan lokalisasi) yang berpraktik secara ilegal yang para pekerjanya berasal dari beberapa kabupaten di Jawa Timur. Apalagi dengan adanya penutupan lokalisasi PSK di Surabaya, para PSK itu berdatangan ke wilayah Tanah Bumbu. Di lokasi PSK yang dikenal dengan nama Kapis, sekitar 18 kilometer dari Batulicin Ibukota Tanah Bumbu, diperkirakan setidaknya terdapat kini 500-an PSK. Keberadaan dan bertambahnya para PSK di lokasi tersebut tentu semakin menambah kerawanan akan para pengidap HIV/AIDS yang baru. Ini belum terhitung para PSK yang beroperasi secara bebas di luaran yang berpraktik di hotel-hotel maupun penginapan. Ditambah keberadaan beberapa lokasi PSK di daerah kecamatan.

Kegiatan pertambangan batubara dan bijih besi di seluruh wilayah Tanah Bumbu, menjadi daya tarik yang mengundang para PSK berdatangan, ini untuk melayani para pekerja tambang yang membutuhkan hiburan.
Seoengtahuan penulis, keberadaan para PSK di beberapa lokasi ini hanya memperoleh pelayanan kesehatan dari paramedis (Mantri) yang dibayar oleh para mucikari, yang sebulan sekali memberikan suntikan antibiotik. Meski terdapat imbauan agar menggunakan kondom, tampaknya sebagian besar tak mengindahkannya.


Karena keberadaan praktik prostitusi yang ilegal, sehingga kurang mendapat perhatian dari Pemkab setempat. Tak bisa dibayangkan ke depannya. Jika kegiatan pertambangan di wilayah Tanah Bumbu terus eksis, bukan mustahil nantinya jumlah pengidap HIV/AIDS di Tanah Bumbu semakin terus bertambah pula, dan menduduki peringkat teratas di seluruh Kalimantan, ngeri.

*Sumber : Metro TV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.