(Ternyata) Harga Rokok Masih Lebih Mahal Daripada BBM - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 30 Maret 2014

(Ternyata) Harga Rokok Masih Lebih Mahal Daripada BBM

Jika pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM bersubsidi, maka harga Bensin (Premium) dari harga sebelumnya per liter Rp 4.500 menjadi Rp 6.500. Sedangkan Solar (HSD) dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500. Itu berarti jenis Premium naik per liter sebesar Rp 2.000, sedangkan Solar naik per liternya Rp 1.000.

Dari rencana kenaikan harga BBM saja, sudah menuai banyak protes; unjuk rasa di berbagai daerah. Terlepas dari pro dan kontra kenaikan harga BBM bersubsidi, ternyata dari beberapa dekade sebelumnya, harga rokok masih lebih mahal daripada harga BBM (bersubsidi).

Seingat saya, pada era pemerintahan Orde Baru (Soeharto), beberapa jenis dan merk rokok harganya lebih mahal daripada harga bensin per liter yang dijual di eceran (bukan di SPBU).

Di era tahun 1980-an, di tempat tinggal kami, sebuah wilayah kecamatan di Propinsi Kalsel, ketika itu belum terdapat SPBU; bensin dijual di kios-kios pengecer. Harga rata-rata bensin per liter kala itu dijual seharga Rp 500. Harga tersebut jika dibanding beberapa merk rokok; lebih murah.



Harga sebungkus rokok kretek filter merk Gudang Garam dan Bentoel yang berisi 16 batang dijual seharga Rp 600 kala itu. Kemudian merk Dji Sam Soe kretek isi 12 dijual seharga Rp 750. Nah, ternyata kini pun harga rokok tersebut tetap masih lebih mahal daripada harga bensin di eceran.

Di tempat tinggal kami kini, sebuah ibukota kabupaten di Kalsel, harga bensin di kios eceran dijual rata-rata Rp 6.000. Tak jarang jika stok di SPBU menipis dalam beberapa hari, atau malah tak memperoleh pasokan dari depo Pertamina, sehingga bensin jadi langka, harga di kios eceran bisa naik mencapai angka Rp 7.000, Rp 8.000 hingga Rp 10.000; tergantung jauh dekatnya jarak dari SPBU.

Jika pada harga bersubsidi Rp 4.500 untuk bensin dijual di eceran seharga rata-rata Rp 6.000, dengan adanya kenaikan menjadi Rp 6.500, meka sudah pasti harga di eceran naik menjadi Rp 8.500, atau malah bisa Rp 9.000 hingga Rp 10.000. Nah, jika terjadi kelangkaan dalam beberapa hari, sudah dapat diprediksi harganya di eceran bisa berada diatas harga Rp 10.000.

Taruhlah dengan adanya kenaikan harga BBM bersubsidi, sehingga bensin dijual di eceran dengan harga rata-rata antara Rp 9.000 atau Rp 10.000, maka masih tetap lebih mahal harga beberapa jenis dan merk rokok. Harga sebungkus rokok kretek Dji Sam Soe isi 12 adalah Rp 11.000 (harga bandrol) dijual eceran seharga Rp 12.000. Rokok kretek filter merk Sampoerna Mild isi 16 seharga Rp 12.000 (bandrol) dijual di eceran Rp 14.000. Lalu Gudang Garam Surya 16 seharga Rp 12.000 dan merk LA Lights 16 seharga Rp 11.200, keduanya harga bandrol.

Bagi perokok, harga rokok yang terus naik seiring dengan naiknya harga BBM, mereka tak pernah protes, apalagi sampai unjuk rasa. Karena mereka tahu dan sadar bahwa merokok adalah kesenangan dan kebiasaan saja. Berbeda dengan kenaikan harga BBM, sudah kita lihat sendiri terjadi unjuk rasa dimana-mana. Karena kenaikan harga BBM imbasnya yang pertama adalah kenaikan harga seluruh kebutuhan pokok maupun yang bukan. Terserahlah harga BBM mau naik atau turun, itu wewenangnya pemerintah yang katanya sudah berkoordinasi dengan para “wakil rakyat” yang belum tentu memihak rakyat yang diwakilinya. Yang jelas dari jaman saya masih anak-anak hingga kini; harga beberapa rokok masih lebih mahal daripada bensin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.