Ternyata Ramadhan Belum Membuat Berhemat - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 04 Maret 2014

Ternyata Ramadhan Belum Membuat Berhemat

Kembali umat muslim yang beruntung masih bernafas dipertemukan lagi dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh rakhmat, lebih baik dari seribu bulan.

Berpuasa, terutama di bulan Ramadhan mengekang segala hawa nafsu, sehingga puasa diibaratkan sebuah pertempuran atau peperangan yang lebih dahsyat daripada perang Uhud.

Bulan Ramadhan dimana pada siang hari meski sebagian besar aktivitas keseharian tetap berjalan seperti biasa, namun aktivitas makan minum tentu tak dilakukan. Dengan berkurangnya aktivitas primer manusia ini, mestinya juga berdampak kepada berkurangnya anggaran atau budget biaya hidup.

Pertanyaannya adalah sudahkah sebagian besar dari kita yang berpuasa, juga mengetatkan ikat pinggang atau berhemat dibanding bulan-bulan lain ?

foto : agakewl.blogspot.com

Jawabannya adalah berhemat tentunya. Tapi menurut pengamatan saya, berhemat ini kebanyakan justru dilakukan oleh umat islam yang tingkat ekonominya tergolong tak mampu, tapi kurang berlaku bagi mereka tergolong mampu secara ekonomi.

Padahal jika dipikir siang hari tak ada kegiatan makan, minum dan merokok (bagi yang merokok saja). Semestinya anggaran untuk itu semua bisa ditekan. Tapi kenyataan yang banyak terjadi dan berlaku justru pada bulan Ramadhan anggaran atau budget belanja makan minum malah meningkat.

Hal itu tampaknya terjadi karena melakukan pembelian berbagai makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Kemudian juga yang membuat anggaran membengkak adalah menyediakan makanan dan minuman untuk keperluan sahur.

Jika pada bulan-bulan lain melaksanakan makan malam hanya dengan lauk pauk seadanya, pada saat berbuka puasa banyak menyediakan makanan dan minuman yang beraneka macam, mungkin ditambah pula dengan berbagai buah-buahan. Begitupun tatkala melakukan makan sahur, menyediakan berbagai makanan dan minuman yang dianggap dapat meningkatkan atau mempertahankan stamina sehingga kuat berpuasa.

Anggaran pengeluaran ini akan semakin membengkak menjelang akhir-akhir Ramadhan. Selain mempersiapkan untuk membayar zakat fitrah, anggaran yang paling besar menyita isi kocek adalah untuk membeli busana dan pakaian lebaran; baju, celana, sepatu, bahkan yang semestinya tak perlu diganti (karena masih bisa dipakai) seperti kopiah dan sajadah maupun mukena, juga ikut-ikutan beli yang baru. Selain itu yang kemungkinan ikut membengkak adalah anggaran untuk beli pulsa, karena tradisi saling kirim ucapan selamat lebaran ke para kenalan, rekanan, sahabat, keramat dan keluarga.

Jika hikmah dibalik puasa di bulan Ramadhan ini bertujuan mengajarkan kita semua turut merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang belum beruntung secara ekonomi, yang dalam keseharian mereka terkadang bisa makan minum seadanya, tak jarang juga tak mampu membeli makan minum, maka dengan kita belum juga bisa berhemat di bulan suci ini, berarti kita belum punya empati terhadap saudara-saudara kita yang masih serba kekurangan. Marhaban ya Ramadhan !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.