Warung 1 Milyar - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Warung 1 Milyar

Aktivitas penambangan terutama batubara di daerahku mengalami booming menjelang tahun 2000 lalu. Sebelumnya perusahaan yang melakukan penambangan batubara hanya PT. Arutmin Indonesia.

Mata pencarian warga di daerah kala itu sebelum adanya aktivitas penambangan, kebanyakan bekerja di sektor usaha yang terkait industri perkayuan. Setelah adanya banyak perusahaan tambang yang beroperasi, mata pencaharian warga pun banyak yang beralih ke bidang tersebut.


Nah, yang namanya perantara, makelar, blantik, ataupun bahasa kerennya broker, di bidang usaha apapun pasti selalu ada.

Untuk menyebut perantara ataupun sejenisnya itu, di daerahku dikenal dengan panggilan Pa’ayaman. Entah kenapa mereka disebut begitu, istilah ini muncul dengan sendirinya dalam khasanah bahasa daerah kami yang mayoritas warganya menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa komunikasi dan pergaulan sehari-hari.

Jika menilik dari kata Pa’ayaman, bisa disimpulkan sebagai pelaku yang ada kaitannya dengan masalah ayam ; Pa, merupakan awalan yang mengacu kepada pelaku atau orang, kemudian ayam, adalah hewan ternak yang dikonsumsi oleh kebanyakan manusia, lalu ditambah akhiran an, ini merujuk kepada hal berbau kiasan. Jadi bila mesti diartikan atau diterjemahkan secara harfiah pasti tidak nyambung. Yang jelas kata “Pa’ayaman” atau ada juga yang menyebut “Pahayaman” itu konotasinya adalah pelaku perantara jual beli, dagang maupun bisnis.

Para Pa’ayaman ini di daerahku kebanyakan dari mereka saling kenal satu sama lain. Biasanya mereka memiliki tempat berkumpul di suatu tempat tertentu, yang saya ketahui selama ini tempat berkumpul mereka di warung-warung minum. Diantara banyaknya warung minum di tempat tinggalku, terdapat sebuah warung yang sering ramai dijadikan tempat berkumpulnya para Pa’ayaman ini. Kebanyakan warga mengenalnya dengan sebutan “warung 1 milyar.”

Sebelumnya saya sempat kaget dengan sebutan warung tersebut. Namun seorang teman saya member tahu saya kenapa warung itu mendapat sebutan seperti itu. “Coba kamu sesekali minum di warung itu,” saran temanku.

Saya pun suatu kali mengunjungi warung minum tersebut. Suasananya ramai, ditambah lokasinya yang tak jauh dari pusat kota. Saya ikut gabung dengan para Pa’ayaman yang lumayan banyak itu. Sambil minum dan merokok saya menjadi pendengar yang baik.

Mendengar percakapan mereka satu sama lain, akhirnya saya menjadi paham kenapa warung tempat mangkal itu dinamai warung 1 milyar. Karena mereka yang berkunjung ke warung tersebut omongannya semua terkait bisnis batubara dengan menyebut angka-angka milyaran rupiah.

Tapi begitulah mungkin style mereka supaya dianggap bonafit jika omongannya bisa didengar orang lain.

Kebiasaan saya bila duduk di warung, rokok saya selalu saya keluarkan dari saku, saya taruh diatas meja berikut pemantik apinya. Eh, tak tahunya salah seorang dari mereka yang omongannya milyaran itu mendekati saya. Dia permisi minta sebatang rokok saya. Dan berikutnya yang lain juga ikut minta rokok saya. Namanya saya ingin mengetahui perihal warung itu, saya persilakan saja rokok saya dijadikan ajang pembantaian (hehehe).

Saya membatin, “omongan lu gede, ujung-unjungnya rokok orang lu isap.”

Hasil penelusuran saya ini saya ceritakan ke teman saya. Dia terbahak, “akhirnya lu tau dan liat langsung sendiri kenapa tu warung 1 milyar. Yah, begitulah tingkah para PAMA itu disana.”

Saya kembali heran kenapa teman saya menyebut kata PAMA untuk Pa’ayaman itu, eh tak tahunya PAMA itu singkatan dari PA’ayaman MAndiri alias makelar mandiri. Ada-ada saja. Kebetulan memang ada perusahaan tambang bernama PT. Pama Indo Mining dan PT. Pama Persada di daerah saya. Jadinya para Pa’ayaman itu menjadi terbantu bila disebut atau dikatakan bekerja di PAMA.

Adapun perihal warung 1 milyar, warung minum ini selalu dan tetap ramai hingga larut malam. Karena di warung inilah para pekerja PAMA itu rupanya mengatur strategi mencari dan menggaet klien mereka. Yang ikut terbantu juga agaknya si pemilik warung yang tak perlu repot memikirkan nama untuk warungnya, karena sudah dibikinkan nama oleh warga, dan terkenal pula. Disamping itu dagangan warung menjadi sangat laku, meskipun tak menutup kemungkinan banyak yang dihutang oleh para PAMA itu, hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.