Kuliner; Soal Rasa dan Perasaan, Masak Habang dan Rendang - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 18 Desember 2017

Kuliner; Soal Rasa dan Perasaan, Masak Habang dan Rendang

Mohon maaf, jika saya disuruh memilih masakan antara Masak Habang (masakan Banjar) dengan Masakan Padang jenis Rendang, atau Masakan Manado jenis Rica-rica (yang halal tentunya), saya pasti akan memilih Rica-rica ataupun Rendang. Kenapa ? Ini soal selera, pilihan dan kegemaran serta kecocokan.

courtesy : fussfreecooking
Bukan saya tak menghargai masakan warisan leluhur saya sebagai Urang Banjar, tapi sekali lagi ini soal selera, pilihan dan kegemaran serta kecocokan.
Selain itu juga terkait kebiasaan. Adalah menjadi kebiasaan saya makan sesuatu yang terasa pedas di lidah meski tak sedikit orang yang menghindari masakan pedas. "Makanan padas itu lainan makanan manusia tagal makanan hantu, kita makan ni handak nyaman kada gasan manyiksa." Maksudnya "makanan yang pedas itu bukan makanan untuk manusia tapi makanan setan, kita makan ini untuk agar enak bukan untuk menyiksa diri", ini yang sering saya dengar sebagai apologi (pembelaan diri) dari mereka yang menghindari masakan atau makanan pedas.

Namun berbeda dengan saya, juga bagi para penyuka masakan dan makan yang serba pedas, rasa menyengat yang tak dapat dibedakan oleh orang Inggris antara pedas dan panas tetap disebut hot ini, pedas itu adalah suatu kenikmatan dan kenyamanan.

Lupakan soal rasa pedas, masih banyak rasa lainnya yang pasti pernah dan akan kita semua rasakan; asin, manis, getir, kecut, masam, pahit, bahkan payau.
Bukan masalah rasa tapi bagaimana perasaan kita setelah mengetahui rasa, hehehe......muter blas kayak kitiran di tengah sawah.

Saya ingin membicarakan atau tepatnya mengapresiasi kreativitas Urang Awak atau Minangkabau atau secara spesifik disebut Orang Padang terkait soal kuliner atau masakan. Satu diantara banyak suku di Endonesa ini sangat piawai soal mengolah kuliner. Yang namanya warung, rumah makan hingga resto Padang sudah sangat terkenal di seantero negeri bahkan mancanegara. Konon masakan Padang menjadi satu diantara kuliner paling lezat di seantero dunia, hebat, plok, plok, plok sambil nyegir kanan kiri, hahaha.......

courtesy : lestariweb
Jika membandingkannya dengan kuliner atau masakan khas Banjar, tertinggal jauh beberapa level di bawah klasemen (kayak bolasepak aja). Bisa kita lihat sendiri rumah makan Padang bertebaran dimana-mana tak terkecuali di seantero Tanah Banjar ataupun Kalsel, dan dinikmati oleh banyak dan berbagai suku bangsa termasuk Urang Banjar sendiri. Namun dipastikan Urang Banjar akan kesulitan tingkat tinggi setinggi BTS Telkomsel jika mencari rumah makan Banjar di Kota Padang apalagi di seantero Nagari Awak atau Sumatera Barat. Ini bukti dan fakta yang tak terbantahkan. Tanyakan saja diantara mereka yang suka kuliner dan berpergian jauh apakah mereka kenal yang namanya Rendang Padang; dipastikan diantaranya ada yang tahu. Tapi tanyakan apakah mereka tahu apa itu Masak Habang; sulit menjawabnya, hiks....

Di tangan Urang Awak, pucuk singkong atau jika di Banua Banjar disebut pucuk gumbili atau pucuk jawau; akan berada di etalase resto kuliner (resto Padang tentunya), tapi di tangan Urang Banjar pucuk singkong cuma jadi masakan atau sayur lalapan menemani ikan kering di rumah warga kelas ekonomi menengah ke bawah. 
Di tangan Urang Awak, jengkol atau jaring; menjadi masakan yang bergengsi bila telah berubah menjadi semur jengkol dan tempatnya di etalase rumah makan Padang. Namun di tangan Urang Banua jengkol hanya menjadi jajanan yang ditawarkan keliling kampung atau dijual di lapak tepi jalan yang hanya orang-orang tertentu yang melirik dan membelinya. Beda penanganan akan menjadi kelas, ini istilah yang pas untuk soal kuliner yang dipegang oleh Urang Awak.

Apakah Urang Banua tak pandai dalam soal mengolah kuliner ? Tergantung jawabannya. Karena soal kuliner adalah soal rasa dan perasaan, maka haruslah ditangani dengan menyesuaikannya dengan rasa dan perasaan yang mengglobal, bukan mengedepankan rasa dan perasaan segelintir ataupun sekelompok maupun komunitas tertentu.
Kuliner Padang diolah dan diciptakan dengan rasa yang fleksibel dan global untuk lidah kebanyakan orang, sementara kuliner lainnya dari khas suku bangsa di Endonesa diolah dan diciptakan sebatas lidah suku bangsa mereka masing-masing saja.

Halah, siang-siang ngomongin soal kuliner. Bilang saja ente belum sarapan sejak pagi tadi dan ngiler rendang dan semur jengkol, hehehe.......
Tidak juga, dan boleh jadi begitu. Tapi itulah Urang Awak yang sangat terkenal tidak saja kulinernya, tapi juga arsitektur, keindahan alamnya, juga para Tokohnya yang banyak memberikan sumbangsih bagi kemajuan Endonesa tercinta ini, hidup NKRE (Negara Kesatuan Republik Endonesa) with standing ovation, atau tepukan gemuruh kata orang Negeri Jiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.