Dukung Gentong Gede Kosong - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 16 Desember 2018

Dukung Gentong Gede Kosong

Sebelum terus membaca saya kasih tau duluan, ini bukan berita apalagi karya jurnalistik, supaya usai baca ga gagal paham, lanjut membacanya.................. 


"Mbok ya sesekali Inyong ditraktir karo kowe mosok Inyong sing traktir trus," cetus Kodri saat barengan sarapan dan minum kopi dengan Mamat di kedai Mbakyu Partini pagi tadi.

"Aduh gua punya bos ga setajir bos lu yang royal kapan aje lu minta fulus," sahut Mamat nyengir seperti kuda ditunggangi jomblo.

Kodri yang turunan Ngapak dan Mamat yang masih tanjakan Betawi (ada turunan pasti ada tanjakan) ini 2 sahabat yang berbeda pilihan dan beda dukungan untuk 2 Calon Ketua RT di kampungnya. Si Kodri mendukung Calon Ketua RT Nomor Siji, Pakde Koko, sedangkan si Mamat mendukung Calon Ketua RT Nomor Dua, si Momo yang Mantan Hansip.

Kalo ditelisik sih alasan Kodri mendukung Pakde Koko dikarenakan ia sobat akrab sama H. Mahli, si Juragan Tukang bangunan, yang merupakan pendukung dan penyokong berat Pakde Koko sejak Pemilihan Ketua RT periode lalu.
Bukan tanpa sebab, sebagai sobat dekat H. Mahli, si Kodri sudah banyak merasakan kenyamanan dari sobatnya yang royal dan dermawan itu. Bayangkan, sepeda pancal, sepeda motor yang dipakai Kodri dan keluarganya semua dari H. Mahli. Selain itu rumah yang ditempati bersama anak bininya pun dari H. Mahli. Bahkan beberapa kali Kodri diajak H. Mahli liburan keluar kampung; ke Jakarta, Bali, Lombok, dan lainnya, malah dikasih uang saku pula dan buat di rumah selama ditinggal liburan. Tak cuma ini yang Kodri dapatkan dari H. Mahli, kesulitan keuangan kapan saja diperlukan, H. Mahli selalu tanpa pikir kirim duit ke Kodri melalui transfer.

Ini sangat jauh beda dengan si Mamat yang karib dengan Om Karun yang pelitnya melebihi tinggi tower Telkomsel. Kadang Om Karun mau aja keluar duit buat Mamat, itu kalau ada maunya; dapat tugas berat si Mamat. Om Karun ini pendukung berat si Momo, Calon Ketua RT yang sudah 3 kali ini mencalon.

"Kowe kok mau-maunya nunut Om Karun sing medhit kuwek," pancing Kodri ke Mamat.

"Yah, nasib gua kayaknye emang selalu apes, dapet sohib kedekut ga ketulungan," Mamat pasang tampang sedih persis maling kepergok Hansip.

"Inyong ora bakal nunut karo uwong kayak kuwek, ora ana untunge, mending nggolek liane bae," ujar Kodri sok kasih nasihat.

"Iya sih, sebenarnye gua juga udah males sohiban sama tuh Om Karun, tapi mau nyari sohib baru terlanjur udah ketahuan jadi pendukungnye si Momo, hedeh apes bener nasib gua," raut muka Mamat tambah sedih bin duka plus lara.

Memang tak ada yang bisa mengubah keputusan si Kodri untuk ke lain hati. Bisa hidup enak, kenapa harus keluar dari zona nyaman untuk memilih sesuatu yang belum jelas alias gelap. Apalagi Kodri trauma dengan masa lalu si Momo yang Mantan Hansip; suka marah, berangasan dan suka main pentung dan gebuk waktu masih bertugas.
Pokoke Kodri ora urus karo si Momo, tugas dia adalah bagaimana caranya agar Pakde Koko bisa kembali terpilih sebagai Ketua RT, karena selain orangnya ramah, lembut dan sabar, Pakde Koko orangnya pun sangat menghargai apapun pekerjaan orang.

Sangat jauh beda dengan si Momo, salah dikit marah, salah banyak murka, dan suka meremehkan orang lain.

"Halah awakmu kuwi cuma lulusan SD paling tetap ae dadi pemulung, tukang gerobak. Liat tuh tampangnya si Sapro, tampang melarat, pasti diusir kalo pingin masuk bioskop. Itu lagi si Kucluk, ga ada kerjaannya selain tiap hari nulis, mau jadi apa kampung ini," ujar si Momo beberapa minggu lalu saat ikut nimbrung di kedai Mbakyu Partini.

"Inyong arep matek, arep urip pokoke tetep milih Pakde Koko. Mesakno kowe Mat.......kowe ndukung gentong gede kosong," kata Kodri seraya membayar sarapan dan kopinya, tak lupa ia pun membayarkan yang dimakan dan diminum Mamat.


*Mohon maaf jika terdapat kesamaan nama pelaku, nama tempat, maupun karakter, tulisan ini hanyalah fiksi satire.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.