Paris Barantai, Lagu Aneh Tentang Kotabaru Bukan Tentang Paris - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Juni 2019

Paris Barantai, Lagu Aneh Tentang Kotabaru Bukan Tentang Paris


Malam ini akan dilaksanakan acara puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Kotabaru yang 69, bertempat di Taman Siring Laut yang berada di bibir Selat Laut yang memisahkan antara daratan Pulau Laut dimana terdapat ibukota Kabupaten Kotabaru dengan daratan Pulau Kalimantan (tepatnya wilayah Propinsi Kalsel).

Panggung perayaan sudah dipersiapkan berikut peralatan musik, karena akan menampilkan beberapa penyanyi dan band ternama antara lain beberapa penyanyi jebolan Dangdut Academy, Kontes Dangdut Indonesia dan Band Armada. Selain itu juga akan menampilkan kesenian daerah lokal diantaranya termasuk lagu Paris Barantai, karena saat mengetes peralatan lagu yang cukup unik, antik dan aneh itu turut diperdengarkan.

Paris Barantai, Penulis sebut lagu yang aneh, why ? Karena dari keseluruhan syair lagu tersebut tak ada sama sekali mencantumkan 2 kata yang dijadikan judulnya yakni 'Paris' dan 'Barantai'.

Dulu saat Penulis masih bocah tak tahu kalau lagu yang sangat akrab di telinga kami ini dan dinyanyikan sebagai lagu pengantar tidur bagi adik-adik kami masih balita ternyata judulnya Paris Barantai. Karena hanya membaca judulnya saja Penulis kira lagu tersebut menceritakan tentang kota Paris di negera Prancis dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang berderet seperti berantai, ternyata.........

Kotabaru gunungnya bamiga,
Bamiga umbak manampur di sala karang,
Umbak manampur di sala karang...
Malam tadi bamimpi badatang,
Badatang iman di dada rasa malayang,
Iman di dada rasa malayang......

Nah itulah sebagian syair dari lagu Paris Barantai, yang Penulis rasakan juga ada yang aneh diantara kata-katanya karena tak merepresentasikan kosa kata dalam bahasa Banjar dialek manapun baik dialek Kuala, Pahuluan maupun dialek Batang Banyu, kenapa ?
Kata 'bamiga' sama sekali tak dikenal dalam bahasa Banjar terkecuali jika maksudnya 'ber-mega' harusnya adalah 'berawan' sesuai dengan penampakan Gunung Sebatung yang jadi ikon Kotabaru yang memang sering diselimuti awan terutama pada saat pagi hari.

Lalu ada kata 'umbak' pada syair lagu tersebut. Kosa kata 'umbak' inipun tak merepresentasikan kosa kata bahasa Banjar, karena 'Urang Banjar' tak pernah menyebut kata 'umbak' atau ombak (bahasa Indonesia), kosa kata yang lazim dan umum dipakai adalah kata 'galumbang'.

Dan lagu Paris Barantai ini diklaim oleh beberapa pihak sebagai ciptaan dari Mendiang Anang Ardiansyah seorang Maestro Musik di Kalsel. Namun seingat Penulis sendiri waktu masih SD; lagu tersebut tak ada penciptanya alias NN (No Name), termasuk public domain yang memang sudah ada dan di masyarakat Kotabaru tempo dulu sebagai lagu pelipur lara saat berada di tepian Selat Laut, dan juga dipakai sebagai lagu pengantar tidur anak dalam ayunan.
Kalaupun dikaitkan dengan Mendiang Anang Ardiansyah kemungkinan lebih kepada sebagai penggubah atau pengaransemen ulang lagu tersebut untuk mendapatkan partitur dan diiringi oleh peralatan musik.

Aneh saja seaneh judul lagunya, jika seorang Anang Ardiansyah adalah penutur bahasa Banjar sampai tidak jeli menggunakan kosa kata yang tak lazim dalam bahasa Banjar seperti 'bamiga/bamega' dan 'umbak/ombak'. (ISP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.