Bahasa Rusak; KataX Asiyap - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Jumat, 30 Agustus 2019

Bahasa Rusak; KataX Asiyap

courtesy : asumsi
Tak sampai 2 bulan bangsa Indonesia kembali akan memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober.
Satu dari poin yang selalu jadi perhatian saya adalah 'berbahasa satu bahasa Indonesia', meskipun bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu (lingua franca) untuk ratusan suku bangsa di Indonesia, namun menggunakan bahasa ibu (mother tounge) tetaplah nyaman dan menjadi keharusan bagi saya pribadi dalam berkomunikasi setiap hari.

Bahasa ibu saya adalah Bahasa Banjar atau kami menyebutnya Basa Banjar, yang digunakan oleh mayoritas penduduk Kalimantan Selatan dalam berkomunikasi setiap hari. Bahasa Banjar ini tak cuma digunakan oleh kami yang memang berasal dari etnis Banjar, tapi juga digunakan oleh suku lainnya yang sudah lama menetap di 'Tanah Banjar' dan sudah menjadi warga Kalimantan Selatan.

Meski demikian bukan berarti saya, kami tak menghargai Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, namun dikarenakan lebih nyaman saja bercakap dalam bahasa daerah kami apalagi suku lain pun tak keberatan mau mempelajari bahasa kami.

Oke, kita lupakan saja Bahasa Banjar yang kosa katanya banyak yang mirip dengan Bahasa Indonesia ini terutama Bahasa Banjar Dialek Kuala.
Saya akan membahas masalah Bahasa Indonesia yang sudah banyak dirusak disana sini oleh orang Indonesia sendiri. Misalnya saja dalam bahasa penulisan terdapat pengrusakan yang tampaknya memang disengaja.

Contoh pengrusakan dalam penulisan Bahasa Indonesia adalah :
- Mengganti suku kata Nya dengan X. Penulisan dalam Bahasa Indonesia tak mengenal penggunaan konsonan X, makanya adopsi dari kata Bahasa Inggris untuk 'taxi' ditulis menjadi 'taksi'. Lalu kata maximal, maximum menjadi maksimal dan maksimum.
Namun entah sudah berapa lama ada yang memperkenalkan konsonan X digunakan untuk mengganti suku kata Nya. Contohnya saja tak sedikit menulis di media sosial yang menggunakan konsonan X, misal : katanya ditulis kataX, puX = punya, namaX = namanya, dan sebagainya.

- Kemudian yang sedang trend adalah kata Asiap, Asiyap untuk menuliskan kata 'siap'.
Kalau pengalaman yang saya tahu munculnya kata-kata seperti 'Asiap' ini dikarenakan kesalahan ketik pada keypad smart phone yang selalu dikoreksi pada awalnya, namun dikarenakan selalu saja terjadi kesalahan, maka kesalahan pun dibiarkan saja dan dianggap malah menciptakan kata unik.

- Yang juga termasuk kesalahan adalah menuliskan kata awalan 'di' dipisah dari kata kerja bentuk pasif, misalkan : di perbaiki, di makan, di lakukan, dan sebagainya. Namun sebaliknya malah kata depan 'di' untuk menunjukkan tempat atau lokasi malah ditulis disambung, contoh : dikotabaru, dibatulicin, dibanjarmasin, dan lain sebagainya.

Nah, itulah beberapa kesalahan yang disengaja dilakukan oleh orang Indonesia sendiri yang dapat merusak bahasa itu sendiri, padahal kalau bukan kita orang Indonesia yang menjaga bahasa kita maka orang mancanegara pasti tak akan mau. (ISP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.