Banjir Jakarta Dan Banjir Nabi Nuh - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 23 Maret 2014

Banjir Jakarta Dan Banjir Nabi Nuh

courtesy : kompasiana
Joko Widodo atau Jokowi, Gubernur Jakarta yang baru beberapa bulan menjabat, saya kira sedang ketiban sial dan diuji dengan datangnya banjir yang cukup yang melanda ibukota RI itu.

Jokowi berserta perangkat kerjanya, yang kebanyakan merupakan perangkat kerja dari para Gubernur terdahulu, benar-benar sedang memeras otak berupaya menanggulangi dan mencegah banjir ke depannya.

Banjir yang melanda Jakarta, pun memunculkan ide agar memindahkan ibukota RI itu ke tempat atau daerah lain. Ketua DPR RI, Marzuki Ali pun angkat bicara memunculkan ide agar ibukota RI pindah. Selain itu ikut pula angkat bicara Ketua MPR RI, Taufik Kiemas yang mengangkat kembali ide mertuanya, Mantan Presiden RI Pertama, Soekarno, yang pernah mengusulkan Kota Palangkaraya di Kalimantan Tengah untuk jadi ibukota RI.

Banjir Jakarta, yang menurut beberapa laporan media, sekita 20 persen melanda wilayah ibukota RI itu. Semoga ini bukan kutukan, hanya sekedar musibah sebagai teguran dari Tuhan.
Bila Tuhan pernah menurunkan kutukan banjir besar di era Nabi Nuh AS, itu disebabkan oleh karena sebagian besar umat yang ingkar dan kafir kepada Tuhan, dan melecehkan Utusan-Nya, banjir di Jakarta pasti bukan karena itu. Karena ayat-ayat Tuhan masih dilantunkan dan dikumandangkan di seluruh tempat ibadah yang berbeda-beda oleh umat dengan jalan yang berbeda-beda pula.


Umat di Jakarta pasti pula tak ada yang melecehkan para Utusan-Nya yang telah lama hilang dari muka bumi. Tapi bukan mustahil banyak umat yang sudah melecehkan berbagai peringatan Tuhan melalui ayat-ayat di kitab suci-Nya.

Banjir besar di era Nabi Nuh AS tak bisa memang dibandingkan dengan banjir di Jakarta, tapi boleh jadi ada kesamaan dan kemiripan. Jika umat Nabi Nuh AS dapat kutuk karena keingkaran dan kekafiran, maka boleh jadi banjir di Jakarta oleh sebab kemunafikan. Mari kita semua merenung atas banjir di Jakarta, tak perlu saling menyalahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.