Kayu Ulin, Riwayatmu Bakal Punah - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Kayu Ulin, Riwayatmu Bakal Punah

foto : bisnisyatman.com
Di era tahun antara 1970 hingga 1990, sejenis kayu yang termasuk khas pulau Kalimantan, Ulin begitu penduduk setempat menyebutnya, menjadi salah satu komoditi unggulan.

Kayu bertekstur keras ini bernama Latin, Eusideroxylon Zwageri, T. Et. B, dikenal juga dengan sebutan Kayu Besi, karena sifatnya yang tahan puluhan tahun terhadap cuaca dan gerusan air.

Kayu Ulin ini sangat banyak tumbuh di pedalaman hutan pulau Kalimantan. Dan keberadaan Ulin ini hampir-hampir tak dapat dipisahkan dari salah satu sisi kehidupan warga pribumi. Setiap warga akan membangun tempat tinggal, baik itu berupa pondok, gubuk maupun rumah, kayu Ulin tak pernah ketinggalan dicari dan dikumpulkan untuk bahan bangunan utama. Sampai-sampai atap pun dibuat dari kayu Ulin, yaitu yang disebut dengan atap Sirap.

Perburuan terhadap kayu Ulin yang lumayan mahal harganya selama lebih kurang 2 dekade, menjadikannya kini barang langka. Kayu Ulin ditebang, dibikin kayu olahan (sawn timber) dalam berbagai ukuran dan jenis, kemudian dikirim dan dijual keluar daerah. Sedangkan jenis kayu ini diketahui sangat amat lambat pertumbuhannya. Belum terdengar informasi adanya keberhasilan membudi dayakan tumbuhan ini.

Setelah terjadi kelangkaan Ulin, perburuan terhadap kayu ini rupanya belum berhenti. Para penebang hingga kini masih terus mencari ke berbagai pelosok pedalaman hutan pulau Kalimantan. Bekas-bekas tonggak tebangan yang sudah bertahun-tahun pun mereka manfaatkan, ditebang kembali. Tonggak-tonggak bekas tebangan yang bertinggi puluhan sentimeter hingga mencapai 1 meteran itu dimanfaatkan untuk dijadikan kepingan atap Sirap.

foto : wikipedia
Kelangkaan dan mahalnya harga kayu Ulin, kini warga untuk membangun rumah beralih ke bahan bangunan batu, bata dan semen, serta menggunakan atap dari seng, aluminium dan sejenisnya. Di daerah perkotaan sudah amat jarang ditemukan bangunan baru yang berbahan kayu Ulin, terkecuali terdapat bangunan sisa-sia tempo dulu yang masih berdiri terselip diantara ratusan bahkan ribuan bangunan beton. Padahal dulunya bangunan tempat tinggal dengan bahan kayu Ulin ini dapat dijadikan semacam symbol status sosial penghuninya.
Bangunan tempat tinggal maupun bangunan umum lainnya masih bisa ditemukan di daerah pedalaman, di desa-desa.

Sangat lambatnya pertumbuhan kayu Ulin, dan terus dibabatnya hutan untuk pembukaan lokasi pertambangan dan perkebunan, serta masih adanya praktik tebangan liar, perladangan berpindah, akan sangat memungkinkan keberadaan kayu Ulin semakin menghilang. Kayu Ulin bukan mustahil nantinya cuma tinggal nama, bisa dilihat melalui foto-foto, dan nasibnya tak lebih mujur dari dinosaurus alias punah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.