Kubatalkan Perjalanan ke Padang Panjang - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 10 Maret 2014

Kubatalkan Perjalanan ke Padang Panjang

foto : wikipedia
Saat itu menjelang sore, aku dan temanku mempersiapkan dan mengecek sepeda motor. Kami berencana akan bepergian ke Padang Panjang, kota tempat kelahiran Buya Hamka, seorang putra bangsa yang multi talenta; ulama, politikus, negarawan, dan penulis.

Kami berangkat dari Pekanbaru, melewati beberapa kabupaten, aku sudah tak ingat nama-nama tempat yang kami lewati. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Yang menggerakkanku terbang dari Kalimantan ke Sumatera adalah, ingin menemui seorang teman sebagai sesama pelaku jurnalistik online di Riau.

Kupikir dengan sudah tiba di Pekanbaru, aku akan sekalian mengunjungi tempat-tempat lainnya yang terkait dengan tokoh sejarah.

Perjalanan ke Padang Panjang tak seperti yang kubayangkan seperti halnya jalanan di Kalimantan yang kebanyakan berada di daratan rendah. Jalan yang kami lalui ternyata sebagian besar berada di daratan tinggi, bahkan lebih tepat di tebing pegunungan yang kanan atau di kirinya merupakan jurang.
Ciut nyaliku mengetahui kondisi jalan seperti itu. Apalagi temanku mengendarai sepeda motor seperti orang kesetanan, ngebut. Berkali-kali aku nesti menepuk bahunya dari belakang, mengingatkan agar ia berhati-hati.


Di tengah perjalanan kami kemalaman, didera hujan pula. Beberapa kali kami pun mesti berteduh.
Kondisi jalan sehabis hujan yang licin, semakin membuatku selalu memperingatkan temanku agar berhati-hati, meski ia mengaku telah sering kali pulang pergi melewati jalan ini.


Setelah beberapa kali mampir dan istirahat, saat menjelang subuh kami memasuki kota Bukittinggi. Temanku mengajak untuk ke kota tempat kelahiran Bung Hatta, sang Proklamator. Mendengar ajakannya tersebut, aku girang bukan main, karena selain akan dapat berkunjung ke rumah tempat kediaman sang Proklamator, juga dapat menyaksikan jam gadang yang merupakan salah satu ikon Sumatera Barat.

Keinginanku pun terkabul. Kami mengunjungi rumah dimana Bung Hatta dilahirkan dan dibesarkan di wilayah yang dinamakan Aur Tajungkang Tengah Sawah, di wilayah kota Bukittinggi. Kami sempat mengunjungi lokasi jam gadang yang tempatnya tak jauh dari bangunan bernama Istana Bung Hatta.

Kini giliran meneruskan perjalanan ke Padang Panjang, ke tempat kelahiran Buya Hamka, juga mengunjungi danau Maninjau.
Namun sebelum melanjutkan perjalanan kesana, aku meminta keterangan terkait kondisi jalan kesana kepada teman seperjalananku. Dari keterangannya yang mengungkapkan bahwa kondisi jalan kesana penuh dengan kelokan atau belokan yang berada diatas tebing, aku membatalkan niatku kesana.
Disamping itu kondisi tubuhku pun sedang tidak fit, karena semalaman tidak tidur dan kehujanan pula.
Kami pun sepakat berpisah. Temanku tetap melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang karena sedang ada janji dengan keluarga calon istrinya. Sedangkan aku kembali ke Pekanbaru dengan menumpang mobil travel.


Padahal sebenarnya aku sangat ingin berkunjung ke Padang Panjang. Namun karena beberapa sebab itu, aku membatalkannya. Aku berharap suatu saat insya Allah akan kembali lagi untuk benar-benar siap mengunjungi tempat kelahiran Buya Hamka, tokoh yang sangat kukagumi itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.