Maaf, Hujan Ini Kami Pindah Ke Jakarta - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 23 Maret 2014

Maaf, Hujan Ini Kami Pindah Ke Jakarta

Suatu hari di pedalaman hutan pulau Kalimantan sekelompok para penambang ilegal berkumpul. Mereka membicarakan masalah cuaca, terutama hujan yang akhir-akhir ini hampir setiap hari mengguyur wilayah dimana tambang mereka berada.

Para pengusaha tambang batubara ilegal itu hampir stres dan kelimpungan mengatasi kondisi tambang mereka yang tergenang air, sehingga menyulitkan mengeruk dan mengeluarkan batubara dari lubang tambang yang cukup dalam.
Selain itu beban pikiran mereka ditambah dengan ditagihnya ’setoran’ ke para oknum yang selama ini membeking pekerjaan mereka.


“Pusing aku memikirkan kondisi cuaca yang hujan hampir tiap hari ini. Tambang tergenang air, batubara tenggelam semua. Mesin pompa air sepertinya tak mampu mengeringkan air didalam lobang tambang,” gerutu H. Genduk, seorang penambang kawakan.
“Iyalah pak haji, kondisi kita sama saja. Selain itu ’setoran’ juga ditagih-tagih,” sungut Mat Plontos yang kepalanya persis Mentalis Dedy Corbuzier.
“Kita ini kerja cuma ambil untung sedikit, kebanyakan yang dicarikan; bayar fee lahan, fee debu, fee desa, royalty ke pemerintah di Jakarta, setoran sana sini untuk beking, pusing, lama-lama bisa stres juga,” H. Madin ikut curhat.


Sudah jadi kondisi alamiah jika hujan terus menerus, maka akibatnya akan menyulitkan para penambang dalam bekerja. Doa setiap penambang pasti meminta cuaca panas, sehingga kerja mereka menjadi lancar.

“Kita mesti mencari pawang yang bisa menunda atau memindah hujan, supaya hujan tak mengguyur lokasi tambang kita,” cetus H. Genduk berbinar.
“Ide bagus. Biar biayanya mahal kita berani bayar asalkan kerja pawang itu paten,” sahut Mat Plontos sambil senyum dikulum.
“Tapi hujan itu kita pindah kemana baiknya ?” tanya H. Madin.
“Terserah mau dipindahkan si Pawan Hujan kemana asalkan tidak di lokasi tambang kita,” kata H. Genduk.


Kebetulan lokasi tambang batubara ketiga pengusaha itu saling berdekatan, itu karena bekingnya pun sama.

Cukup lama mereka memikirkan akan kemana memindahkan hujan yang akan dilakukan oleh Pawang.
“Selama ini pemerintah pusat di Jakarta selalu mendapat kiriman royalty dari kegiatan penambangan batubara. Dan para beking kita pun membelanjakan uangnya di Jakarta. Bagaimana kalau kita pindahkan saja hujan itu ke Jakarta, supaya disana ikut merasakan juga kiriman dari tempat kita ?” usul H. Genduk sambil setengah melonjak kegirangan.
“Setuju……,” serempak kedua rekannya berseru.


Entah sudah atau belum dilakukan pekerjaan mengirim hujan itu oleh Pawang, yang jelas Jakarta dalam beberapa hari tadi sudah dilanda banjir air, yang sebelumnya dibanjiri royalty dari hasil tambang.

Mohon maaf, rangkaian seluruh isi tulisan ini cuma fiktif. Jika ada kesamaan nama pelaku, tempat dan lokasi, hanya kebetulan saja, tak usah diambil hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.