Paket Caleg; Serangan Umum 9 April - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 02 April 2014

Paket Caleg; Serangan Umum 9 April


Hari H pencoblosan Pemilu terus mendekati. Para Caleg yang konon dikehendaki rakyat sudah sangat sibuk mempromosikan diri kepada para calon pemilihnya. Dari mulai pemasangan bendera Parpol, spanduk, baliho, poster, hingga pendistribusian kartu nama, kemeja, kaos, sarung, kerudung, dan lainnya yang terkait Caleg bersangkutan  kepada para calon memilih.

Para Caleg ada yang bergerak sendiri mempromosikan dirinya, namun kebanyakan dilakukan oleh orang lain yang bertindak selaku Tim Sukses. Mereka ini tak sedikit yang sangat aktif, jemput bola istilahnya, datang langsung ke tiap-tiap rumah warga. Yang mereka lakukan mulai dari memperkenalkan data diri Caleg yang diusung berikut iming-iming jika terpilih kelak, mendata nama-nama warga hingga meminta copy KTP.

Aroma politik duit (money politic) tak dapat dipungkiri sudah menyeruak dan menyebar ke berbagai arah sejak jauh-jauh hari. Meski terdapat diantara Caleg enggan berpraktik politik duit, ini tampaknya lebih kepada minimnya dana serta perhitungan antara pengeluaran untuk bisa terpilih dengan jumlah akumulasi gaji dan tunjangan yang bakal diterima jika terpilih sebagai anggota Legislatif. Atau ada pula diantaranya yang melakukan semacam test case, ingin mengetahui apakah terdapat pemilih yang benar-benar cerdas tanpa perlu diberi imbalan apapun.
“Hampir semua Caleg dan Parpol bermain duit, terpaksa kita ikuti permainan jika tak ingin ketinggalan,” ungkap beberapa Caleg dari berbagai Parpol.


Berbagai imbauan untuk jadi Pemilih Cerdas baik yang dilakukan di ruang terbuka hingga merambah ke dunia maya melalui berbagai media sosial, tampaknya tak berpengaruh banyak, kalah dengan aroma sedap praktik politik duit.
Imbauan kepada para calon pemilih pada Pemilu kali ini tampaknya lebih kepada untuk menjadi Pemilih Cerdas daripada ke Golput. Para Pemilih pun tampaknya kebanyakan tak ingin menyiakan suaranya untuk Golput, memilih menjualnya dengan imbalan rupiah maupun Sembako.


Istilah “serangan” untuk mengkondisikan para calon Pemilih pun sudah pula mulai terdengar; istilah yang ditujukan untuk memberikan imbalan agar para calon pemilih benar-benar dapat dipastikan menetapkan pilihannya kepada Caleg yang memberikan imbalan. Jika “Serangan Umum” 1 Maret oleh TNI dulu ditujukan untuk merebut Ibukota RI sementara di Jogyakarta dari penguasaan tentara Belanda, maka “Serangan Umum” 9 April ditujukan oleh para Caleg untuk merebut suara para calon Pemilih.

Paket Caleg

Tidak saja paket Sembako yang mulai disiapkan oleh para kebanyakan Caleg untuk keperluan “serangan umum” atau ada juga yang mengistilahkan “serangan fajar”, namun ada istilah lain yang muncul, yakni Paket Caleg.
Paket ini menghimpun 3 Caleg sekaligus dari Caleg untuk DPRD Kabupaten, DPRD Propinsi dan DPR RI, bergabung dalam meraih suara pemilih. Dalam berpromosi pun mereka tergabung dalam satu paket, begitupun dalam melakukan serangan.
Dari berbagai informasi yang penulis ketahui di daerah dimana penulis berada, terdapat beberapa nilai Paket Caleg ini; ada yang berani memberi senilai Rp 150 ribu per pemilih dengan perhitungan masing-masing Caleg mengeluarkan Rp 50 ribu. Nilai Paket dari masing-masing Caleg dan Parpol bervariasi, ada yang berani menjanjikan hingga Rp 500 ribu per pemilih plus paket sembako, sarung dan kerudung.


Jika mengetahui kondisi seperti ini, tampaknya beberapa kali penyelenggaraan Pemilu di era reformasi ini, belum berhasil mendidik rakyat berpolitik secara cerdas, bahkan cenderung tambah parah. Pemilu yang diharapkan bisa “low cost” justru semakin “high cost”, tidak saja menyedot anggaran negara yang sangat besar, tapi juga menyedot duit para Caleg. Jual beli suara antara para Caleg dengan para Pemilih yang belum cerdas, menjadikan rakyat belum sepenuhnya berdaulat secara politik, yang berdaulat secara politik justru Parpol yang tidak lain merupakan “wakil kelompok” bukan wakil rakyat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.