Banggaku Jadi Urang Banjar - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 29 November 2017

Banggaku Jadi Urang Banjar

Jika saya disuruh memilih untuk terlahir kembali, saya pasti memilih untuk tetap menjadi "Urang Banjar" atau Suku Banjar, why ?

Jawaban saya, ya enak saja menjadi Urang Banjar. Apa enaknya ?
Enaknya pertama karena secara agama Urang Banjar itu jelas beragama Islam. Aneh saja jika ada Urang Banjar yang agamanya bukan Islam sedangkan dia asli Urang Banjar.

Kedua, saya jadi teringat kata mendiang kakek saya dari pihak ibu; menurut beliau, Urang Banjar itu jika punya bini satu; namanya belajar. Jika berbini 2 orang; wajar saja, dan bila berbini 3 orang; baru disebut Urang Banjar, kalau berbini 4 orang ini namanya kurang ajar, karena tak boleh menyamai banyaknya istri Rasul Allah SAW, hahaha.......

Untunglah saya tidak kurang ajar, tahu diri, dan sudah pernah bisa disebut Urang Banjar, hehehe......

Banjarmasin tempoe doeloe (kaskus)
Urang Banjar itu menurut saya unik. Ya, lihat saja pakaian adatnya. Pakaian adat suku Kalimantan lainnya seperti Dayak, Kutai dan Paser; mirip satu sama lain, sedangkan pakaian adat Urang Banjar beda sendiri; pakaian mirip Orang melayu yang pakai penutup kepala bernama laung, memakai keris seperti Orang Jawa.

Dari segi bahasa, Urang Banjar sangat fleksibel, bisa menyerap kata-kata dari manapun bahkan kata-kata dari bahasa mancanegara, misalnya; kata "sarunding" berasal dari kata bahasa Inggris "surrounding" yang dalam bahasa Banjar adalah kelapa goreng yang ditaburkan di sekeliling makanan terutama lontong dan nasi kuning dengan gerakan memutar (surround, mengelilingi). Ada lagi kata "kulir" yang artinya malas, ini saya yakini berasal dari kata bahasa Inggris pula; "cooler", lebih dingin, dikarenakan dingin dari biasanya makanya jadi malas, hehehe.......

Bukan itu saja, ada kata "pampakin", ini jenis buah durian berwarna kuning hingga ke isinya. Perkiraan saya Urang Banjar dulu salah kira, maksud Orang Inggris untuk menyebut "pumpkin" yakni labu atau waluh berwarna kuning. Ada kata "satrat" dari bahasa Belanda yang berasal dari kata "straat" yang artinya jalan.

Jaman now ini Urang Banjar tak luput dari dampak berbagai kemajuan iptek. Urang Banjar biar tinggal di pelosok "pahabisan burung babunyi" pun sudah kenal yang namanya gadget atau "hinpun" atau bisa juga disebut "punsil". Urang Banjar memang cepat melek apa saja tak terkecuali ada yang doyan ngemil namanya pil Zenith, hahaha.......

Urang Banjar pula yang sering kebagian jatah sebagai Pejabat Penting negeri bernama Endonesa ini. Beberapa Urang banjar pernah menduduki jabatan penting, sebut saja KH. Idham Chalid, Kiyai asli Kampung Satui ini pernah jadi Ketua NU dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di era Orde Baru. Lalu Sa'adillah Mursyid yang menduduki jabatan sebagai Menteri Sekretaris Kabinet juga di era Orde Baru. Kemudian Syamsul Mu'arif sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN), Taufik Effendi sebagai Menteri Infokom dan Gusti M. Hatta sebagai Menristek di era Presiden SBY. Di era Presiden Jokowi ini yang saya tahu adalah Fadjroel Rachman sebagai Komisaris Utama PT. Adhi Karya (BUMN) yang kini jadi Jubir Presiden RI, Joko Widodo.
Hebat juga ya Urang Banjar dibanding saudaranya yang lain sesama Suku Kalimantan, tapi mungkin belum giliran saja, ke depannya nanti akan banyak yang hebat-hebat dari Suku Dayak, Kutai dan Paser, semoga.

Intinya saya bangga jadi Urang Banjar. Saya bangga sebagai keturunan Lembu Amangkurat (Lambung Mangkurat), Putri Junjung Buih, Bambang Basiwara dan Sadayuhan, Patmaraga, Sukmaraga, Pangeran Indera Kesumajaya, Pangeran Suryanata, Sultan Adam, Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, dan keturunan dari ayah saya tentunya dan nenek moyang saya Adam Alaihissalam, entah kalau ada yang keturunan Bekantan seperti Charles Darwin, hahaha.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.