Perjalanan Off Road ke Objek Wisata Teluk Tamiyang - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 17 Juni 2019

Perjalanan Off Road ke Objek Wisata Teluk Tamiyang

Melalui perjuangan yang lumayan melelahkan akhirnya mobil Daihatsu Ayla yang kami tumpangi dari Kotabaru sampai juga di Lontar ibukota Kecamatan Pulau Laut Barat yang masih menyisakan sekira 7 kilometer untuk mencapai Desa Teluk Tamiyang, objek wisata di ujung daratan Pulau Laut yang berada di bibir Laut Jawa.

Jarak antara Kotabaru ibukota Kabupaten ke Lontar adalah sekira 130-an kilometer. Kondisi jalan mulai agak lumayan bagus hingga memasuki wilayah Desa Semisir (Sekalian), namun mobil yang kami tumpangi setelahnya harus berubah semacam mobil off road karena kondisi jalan di kawasan Desa Semisir, Semaras dan Sekarambut serta sebagian antara perbatasan Desa Sepagar dan Sebanti; kondisinya nyaris rusak berat dengan lubang-lubang cukup dalam dan berlumpur kebetulan karena sedang musim penghujan.

Mobil Daihatsu Ayla yang adalah city car pun mendapat make up berupa bedak lumpur di bagian depan dan sisi-sisinya, mengenaskan.

"Untunglah sopirnya adalah 'sopir tahe'," ujar teman seperjalanan yang maksudnya sopir lama dalam bahasa Dayak Ngaju.

Kami pun menuju ke penginapan yang cukup bagus di Lontar untuk melepas lelah sekaligus menginap untuk malam nanti, serta mempersiapkan untuk perjalanan besok menuju Teluk Tamiyang yang kini mulai banyak dikunjungi pelancong dari berbagai daerah.

Kondisi jalanan ke Teluk Tamiyang pun dijajal kembali oleh si Ayla, bukan medan off road memang tapi jalan berbatu yang berlubang dengan pemandangan sedikit sisa aspal puluhan tahun lalu yang terkelupas digerus usia dan alam.

Ada 2 hal yang ingin saya sampaikan di tulisan ini yakni terkait objek wisata Pantai Desa Teluk Tamiyang dengan perniknya; Bukit Lekke Tedong (pundak kerbau), pasir putih pantainya, terumbu karang dan juga adanya hutan mangrove. Mulai dikelola oleh Pemerintahan Desa setempat sejak 2013 hingga mengundang para pelancong berdatangan kesana bahkan pernah pelancong dari China mampir kesana.
Dengan berbagai keterbatasannya Pemerintahan Desa dan warganya berusaha mengembangkan fasilitas seadanya agar dapat membuat nyaman para pelancong datang berkunjung.

Hal kedua adalah kondisi infrastruktur jalan yang tak pernah dibangun secara utuh dari ibukota kabupaten hingga ke Lontar dan sekitarnya. Harapan warga disana yang utama adalah jalan yang layak dan bagus agar perpuataran roda perekonomian pun ikut lancar termasuk bidang kepariwisataan.

Misi kami ke Teluk Tamiyang adalah dalam rangka ikut membantu promosi wisata daerah sesuai dengan fungsi dan tugas kami selaku Jurnalis. Tak banyak yang bisa kami baktikan untuk daerah ini terkecuali tenaga dan pikiran.
Kesimpulan kami adalah objek wisata di Teluk Tamiyang sangat pantas untuk jadi perhatian serius dari Pemerintah Daerah terutama dukungan inftastruktur pembangunan jalan yang layak dan bagus. 

Ayo yang belum pernah kesana silakan datang, untuk agak sedikit nyaman melewati jalan yang rusak adalah menggunakan sepeda motor ataupun mobil yang cukup tinggi, terimakasih sudah menyimak. (ISP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.